Selasa, 24 Ogos 2010
KHASIAT KURMA DALAM KESIHATAN DAN ISLAM
Assalamualaikum..para pembaca yang dikasihi,alhamdulilah masih diberi kesempatan untuk saya berkongsi ilmu buat tatapan kita bersama.Saya tertarik dengan tajuk yang diberikan 'Along'sebentar tadi tentang khasiat kurma dalam kesihatan dan pandangan Islam tentang kurma.Tambahan pula,kita di bulan yang mulia ini makanan sunnah semestinya menjadi amalan.Terima kasih buat 'Along' atas perkongsian anda.
Apa yang saya peroleh dari pembacaan,Rasulullah s.a.w. sangat menitik beratkan kesihatan terutama dari segi pemakanan.Baginda sangat teliti dari segi khasiatnya mahupun kesuciannya.Mari kita lihat sunnah yang Rasulullah bawa,iaitu memakan kurma sebagai amalan..
Mengapa baginda berbuat demikian? Antara sebab utamanya adalah kerana baginda mempunyai tugas besar iaitu menyebarkan Islam sehebat mungkin. Untuk tugasan hebat ini, baginda harus memiliki kesihatan yang unggul, fokus yang sangat tajam, kebolehan membuat keputusan dengan cepat (fast decision making), mempunyai tenaga minda yang tinggi agar mampu menpengaruhi umat untuk memeluk Islam. Tidak hairanlah mengapa baginda sehingga hari ini menduduki tangga pertama orang yang paling berpengaruh di dunia menurut satu sumber kajian seorang penulis buku dari Amerika Syarikat.
Apa kaitannya kurma dengan kejayaan baginda? Kurma, kismis, delima, merupakan sebahagian daripada makanan yang bersifat alkali dan apabila diambil dengan kadar yang berpatutan mampu membantu meneutralkan asid yang ada di dalam badan seseorang. Seperti yang kita tahu, asid mengganggu kesihatan, tetapi alkali yang terdapat pada makanan ini mampu mematikan keracunan asid tersebut. Apabila badan kita neutral tidak ada gangguan pada pemikiran dan ketetapan fokus menjadi tinggi. Mental menjadi kuat dan kita mampu merancang strategi dengan baik.
Inilah sebab mengapa Rasulullah bersabda,
“Rumah yang tidak ada kurma di dalamnya, akan menyebabkan penghuninya kurang sihat”.
Dan baginda bersabda lagi,
“Barangsiapa memakan kismis merah sebanyak 21 biji setiap hari sebelum sarapan pagi, maka dia tidak akan tertimpa penyakit kecuali kematian”.
Sabtu, 14 Ogos 2010
Fatimah Az Zahrah RA, Puteri Kesayangan Rasullullah s.a.w.
Assalamualaikum..w.w.t..
Salam buat pembaca setia,moga kalian diredha..
Marilah kita sama-sama menghayati kisah Puteri kesayangan Rasulullah.Moga menjadi ikutan buat kita terutama kaum hawa..
”Fatimah adalah sebagian dariku, siapa yang menyakitinya bererti menyakitiku, siapa yang membuatnya gembira maka ia telah membahagiakanku.” (Al Hadis) Di kalangan suku Quraisy, Fatimah dikenal fasih dan pintar. Ia meriwayatkan hadis dari ayahnya kepada kedua putranya Hasan dan Husein, suaminya Ali bin Abi Thalib, Aisyah, Ummu Salamah, Salma Ummu Rafi’, dan Anas bin Malik.
Kata ‘Fatimah’ berasal dari suku kata ‘Fathama’ yang berarti menyapih atau menghentikan atau menjauhkan. Sebuah riwayat marfu’ menyebutkan, dinamakan ‘Fatimah’ karena Allah Ta’ala menjamin menjauhkan putri bungsu Nabi SAW berikut seluruh keturunannya dari neraka. Riwayat ini diketengahkan oleh al Hafidz ad-Dimasyqi. Sementara riwayat versi an-Nasa-i menyebutkan bahwa Allah Ta’ala akan membebaskan Fatimah beserta orang-orang yang mencintainya dari neraka.
Fatimah juga disebut al-Battul yang bererti memisahkan, karena kenyataannya ia memang terpisah atau berbeda dari wanita-wanita lain sesamanya, baik dari segi keutamaan, agama dan kecantikannya. Ada yang mengatakan, karena ia memisahkan diri dari keduniaan untuk mendekat kepada Allah Ta’ala.
Fatimah Az-Zahra sangat terkenal di dunia Islam, karena hidup paling dekat dan paling lama bersama Nabi Muhammad SAW. Dari dialah keturunan Nabi Muhammad berkembang yang tersebar di hampir semua negeri Islam. Di kalangan penganut syiah, dia dan Ali bin Abi Thalib dianggap sebagai ahlulbait (pewaris kepemimpinan) Nabi Muhammad SAW.
Fatimah dilahirkan di Makkah pada 20 Jumadil Akhir, 18 tahun sebelum Nabi Muhammad hijrah atau di tahun kelima dari kerasulannya. Dia adalah putri bungsu Nabi Muhammad SAW setelah Zainab, Ruqayah dan Ummu Kaltsum. Saudara laki-lakinya yang tertua Qasim dan Abdullah, meninggal dunia pada usia muda.
Setahun setelah hijrah, Fatimah dinikahkan dengan Ali bin bi Thalib. Banyak yang ingin menikahinya kala itu. Maklum saja, selain rupawan, ia adalah perempuan terhormat, anak Rasulullah SAW. Dia pernah hendak dilamar oleh Abu Bakar dan Umar, keduanya sahabat Nabi Muhammad SAW, namun ditolak secara halus oleh Rasulullah SAW.
Sementara itu, Ali tidak berani melamar Fatimah kerana kemiskinannya. Namun Nabi Muhammad SAW mendorongnya dengan memberi bantuan sekadarnya untuk persiapan rumah tangga mereka. Maskawinnya sebesar 500 dirham (10 gram emas), sebagian diperolehnya dengan menjual baju besinya. Nabi Muhammad SAW memilih Ali sebagai suami Fatimah karena ia adalah anggota keluarga yang sangat arif dan terpelajar, di samping merupakan orang pertama yang memeluk Islam.
Dari perkawinan Fatimah dan Ali, lahirlah Hasan dan Husein. Keduanya terkenal sebagai tokoh yang meninggal terbunuh di Karbala. Tak lama kemudian lahir berturut-turut: Muhsin serta tiga orang putri, Zaenab, Ummu Kaltsum, dan Ruqoyyah.
Kehidupan rumah tangga Fatimah sangatlah sederhana, bahkan sering juga kekurangan. Beberapa kali ia harus menggadaikan barang-barang keperluan rumah tangga mereka untuk membeli makanan, sampai-sampai kerudung Fatimah pernah digadaikan kepada seorang Yahudi Madinah untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka. Namun demikian, mereka tetap bahagia, lestari sebagai suami istri sampai akhir hayat.
Fatimah adalah putri kesayangan Rasulullah SAW. Suatu waktu Nabi Muhammad SAW pernah mengatakan kepada Ali, ”Fatimah adalah bagian dariku, siapa yang menyakitinya berarti menyakitiku, siapa yang membuatnya gembira, maka ia telah membahagiakanku.” Ini dikatakan oleh Rasulullah SAW sehubungan dengan keinginan seorang tokoh Quraisy untuk menikahkan anak perempuannya kepada Ali. Ali tidak menolak tetapi segera dicegah oleh Rasulullah SAW.
Sikap Nabi Muhammad SAW semakin keras ketika Abu Jahal manawarkan anak perempuannya kepada Ali. Nabi Muhammad SAW mengatakan, ”Ceraikan dulu Fatimah jika Ali berniat untuk menikahkannya.” Ini merupakan bukti kuat akan kecintaan Rasulullah SAW kepada putri bungsunya ini. Memang Nabi Muhammad SAW sangat sayang kepada Fatimah. Sewaktu Nabi Muhammad SAW sakit keras menjelang wafatnya, Fatimah tiada hentinya menagis.
Nabi Muhammad SAW memanggilnya dan berbisik kepadanya, tangisannya semakin bertambah, lalu Rasulullah SAW berbisik lagi dan dia pun tersenyum. Kemudian hal tersebut ditanyakan orang kepada Fatimah, dan dia menjawab bahwa dia menagis karena ayahnya memberitahukan kepadanya bahwa tak lama lagi sang ayah akan meninggal, tapi dia tersenyum karena seperti kata ayahnya, dialah yang pertama akan menjumpainya di akhirat nanti.
Fatimah meninggal tak sampai selang setahun dari ayahnya. Diriwayatkan dari Aisyah RA, ”Fatimah wafat setelah enam bulan ayahnya, Rasulullah SAW, tepatnya pada hari Selasa bulan Ramadlan tahun 11 Hijriyah. Fatimah RA wafat dalam usia 28 tahun. Merasa ajal seudah dekat, dia membersihkan dirinya, memakai pakaian yang terbaik, memakai wewangian dibantu oleh iparnya, Asma bin Abi Thalib. Dia meninggal dengan satu pesan; hanya Ali, suaminya, yang boleh menyentuh tubuhnya.” Fatimah adalah seorang wanita yang agung, seorang ahli hukum Islam. Dia adalah tokoh wanita dalam bidang kemasyarakatan, orangnya sangat sabar dan bersahaja, dan akhlaknya sangat mulia.
Semoga kisah puteri kesayangan Rasulullah ini banyak menberi panduan agar kita mensyukuri nikmat kurniaan-Nya terutama yang bergelar wanita..dan menjadi ikutan kita bersama..
Rabu, 11 Ogos 2010
KELEBIHAN SEMBAHYANG SOLAT TARAWIH
Assalamualaikum pembaca sekalian...Marilah kita sama-sama memanjatkan kesyukuran kepada Yang Maha Esa...alhamdulilah dengan izinnya dapat kita bertemu lagi dengan bulan yang penuh keberkatan ini iaitu Ramadhan,terlalu banyak makrifat yang diturunkan untuk hamba-hambanya....
Pembaca yang di kasihi,antara amalan sunat yang kita nanti-nantikan pada bulan keberkatan ini adalah solat sunat Tarawih.
Diriwayatkan oleh Saiyidina Ali (r.a.) daripada Rasulullah S.A.W., sebagai jawapan dari pertanyaan sahabat-sahabat Nabi S.A.W. tentang fadhilat (kelebihan) sembahyang sunat terawih pada bulan Ramadan:
Malam 1 - keluar dosa-dosa orang mukmin pada malam pertama sepertimana ia baru dilahirkan, mendapat keampunan dari Allah.
Malam 2 - diampunkan dosa-dosa orang mukmin yang sembahyang terawih serta kedua ibu bapanya (sekiranya mereka orang beriman).
Malam 3 - berseru Malaikat di bawah 'Arash supaya kami meneruskan sembahyang terawih terus menerus semoga Allah mengampunkan dosa engkau.
Malam 4 - memperolehi pahala ia sebagaimana pahala orang-orang yang membaca kitab-kitab Taurat, Zabur, Injil dan AL-Quran.
Malam 5 - Allah kurniakan baginya pahala seumpama orang sembahyang di Masjidilharam, Masjid Madinah dan Masjidil Aqsa.
Malam 6 - Allah kurniakan pahala kepadanya pahala Malaikat-malaikat yang tawaf di Baitul Ma'mur (70 ribu Malaikat sekali tawaf), serta setiap batu-batu dan tanah-tanah mendoakan supaya Allah mengampunkan dosa-dosa orang yang mengerjakan sembahyang terawih pada malam ini.
Malam 7 - Seolah-olah ia dapat bertemu dengan Nabi Musa serta menolong Nabi 'Alaihissalam menentang musuh ketatnya Fir'aun dan Hamman.
Malam 8 - Allah mengurniakan pahala orang sembahyang terawih sepertimana yang telah dikurniakan kepada Nabi Allah Ibrahim 'Alaihissalam.
Malam 9 - Allah kurniakan pahala dan dinaikkan mutu ibadat hambanya seperti Nabi Muhammad S.A.W.
Malam 10 - Allah swt mengurniakan kepadanya kebaikan di dunia dan di akhirat.
Malam 11 - Keluar ia daripada dunia (mati) bersih daripada dosa seperti ia baru dilahirkan.
Malam 12 - Datang ia pada hari Qiamat dengan muka yang bercahaya (cahaya ibadatnya).
Malam 13 - Datang ia pada hari Qiamat dalam aman sentosa daripada tiap-tiap kejahatan dan keburukan.
Malam 14 - Datang Malaikat menyaksikan ia bersembahyang terawih, serta Allah tiada menyesatkannya pada hari Qiamat.
Malam 15 - Semua Malaikat yang menanggung 'Arasy, Kursi, berselawat dan mendoakannya supaya Allah mengampunkannya.
Malam 16 - Allah swt tuliskan baginya terlepas daripada neraka dan dimasukkan ke dalam Syurga.
Malam 17 - Allah kurniakan orang yang bertarawih pahalanya pada malam ini sebanyak pahala Nabi-Nabi.
Malam 18 - Seru Malaikat: Hai Hamba Allah sesungguhnya Allah telah redha kepada engkau dan ibu bapa engkau (yang masih hidup atau mati).
Malam 19 - Allah swt tinggikan darjatnya di dalam Syurga Firdaus.
Malam 20 - Allah kurniakan kepadanya pahala sekelian orang yang mati syahid dan orang-orang solihin.
Malam 21 - Allah binakan sebuah istana dalam Syurga daripada Nur.
Malam 22 - Datang ia pada hari Qiamat aman daripada tiap-tiap dukacita dan kerisauan (tidaklah dalam keadaan huru hara di Padang Mahsyar).
Malam 23 - Allah swt binakan kepadanya sebuah bandar di dalam Syurga daripada Nur.
Malam 24 - Allah bukakan peluang 24 doa yang mustajab bagi orang berterawih malam ini, (elok sekali berdoa ketika dalam sujud).
Malam 25 - Allah Taala angkatkan daripadanya siksa kubur.
Malam 26 - Allah kurniakan kepada orang bertarawih pahala pada malam ini seumpama 40 tahun ibadat.
Malam 27 - Allah kurniakan kepada orang bertarawih pahala pada malam ini ketangkasan melintas atas titian Siratulmustaqim seperti kilat menyambar.
Malam 28 - Allah swt kurniakan kepadanya 1000 darjat di akhirat.
Malam 29 - Allah swt kurniakan kepadanya pahala 1000 kali haji yang mabrur.
Malam 30 - Allah swt beri penghormatan kepada orang berterawih pada malam terakhir ini yang teristimewa sekali, lalu berfirman:
"Hai hambaKu: makanlah segala jenis buah-buahan yang engkau ingini hendak makan di dalam syurga, dan mandilah engkau daripada air syurga yang bernama Salsabila, serta minumlah air daripada telaga yang dikurniakan kepada Nabi Muhammad s.a.w. yang bernama 'Al-Kausar'
Rabu, 4 Ogos 2010
Tsa' labah Bin Abdurrahman Remaja Hebat

Seorang pemuda dari kaum anshar yang bernama Tsa’labah bin Abdurrahman telah masuk Islam. Dia sangat setia melayani Rasulullah saw. dan cekatan. Suatu ketika Rasulullah saw. mengutusnya untuk suatu keperluan. Dalam perjalanannya dia melewati rumah salah seorang dari Anshar, maka terlihat dirinya seorang wanita Anshar yang sedang mandi. Dia takut akan turun wahyu kepada Rasulullah saw. menyangkut perbuatannya itu. Maka dia pun pergi kabur.
Dia menuju ke sebuah gunung yg berada diantara Mekkah dan Madinah dan terus mendakinya.Selama empat puluh hari Rasulullah saw. kehilangan dia. Lalu Jibril alaihissalam turun kepada Nabi saw. dan berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu menyampaikan salam buatmu dan berfirman kepadamu, `Sesungguhnya seorang laki-laki dari umatmu berada di gunung ini sedang memohon perlindungan kepada-Ku.’”
Maka Nabi saw. berkata, “Wahai Umar dan Salman! Pergilah cari Tsa’laba bin Aburrahman, lalu bawa kemari.”
Keduanya pun lalu pergi menyusuri perbukitan Madinah. Dalam pencariannya itu mereka bertemu dengan salah seorang penggembala Madinah yang bernama Dzufafah.
Umar bertanya kepadanya, “Apakah engkau tahu seorang pemuda di antara perbukitan ini?”Penggembala itu menjawab, “Jangan-jangan yang engkau maksud seorang laki-laki yang lari dari neraka Jahanam?”“Bagaimana engkau tahu bahwa dia lari dari neraka Jahanam?” tanya Umar.
Dzaufafah menjawab, “Karana, apabila malam telah tiba, dia keluar kepada kami dari perbukitan ini dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, “Mengapa tidak cabut saja nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti keputusanMu!”“Ya, dialah yg kami maksud,” tegas Umar. Akhirnya mereka bertiga pergi bersama-sama.Ketika malam menjelang, keluarlah dia dari antara perbukitan itu dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, “Wahai Tuhan, seandainya saja Engkau cabut nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti-nanti keputusan!”
Lalu Umar menghampirinya dan mendekapnya. Tsa’labah berkata, “Wahai Umar! Apakah Rasulullah telah mengetahui dosaku?”“Aku tidak tahu, yang jelas kemarin beliau menyebut-nyebut namamu lalu mengutus aku dan Salman untuk mencarimu.”Tsa’labah berkata, “Wahai Umar! Jangan kau bawa aku menghadap beliau kecuali dia dalam keadaan solat”Ketika mereka menemukan Rasulullah saw. tengah melakukan solat, Umar dan Salman segera mengisi shaf. Tatkala Tsa’laba mendengar bacaan Nabi saw, dia tersungkur pengsan.
Setelah Nabi mengucapkan salam, beliau bersabda, “Wahai Umar! Salman! Apakah yang telah kau lakukan pada Tsa’labah?”Keduanya menjawab, “Ini dia, wahai Rasulullah saw!” Maka Rasulullah berdiri dan menggerak-gerakkan Tsa’labah yg membuatnya tersedar.Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Mengapa engkau menghilang dariku?”Tsa’labah menjawab, “Dosaku, ya Rasulullah!”Beliau mengatakan, “Bukankah telah kuajarkan kepadamu suatu ayat yg apat menghapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan?”
“Benar, wahai Rasulullah.”
Rasulullah saw. bersabda,
“Katakan… Ya Tuhan kami, berilah kami sebahagiaan di dunia dan di akhirat serta peliharalah kami dari azab neraka.” (QS al-Baqarah:201)
Tsa’labah berkata, “Dosaku, wahai Rasulullah, sangat besar.”Beliau bersabda,”Akan tetapi kalamullah lebih besar.”Kemudian Rasulullah menyusul agar pulang kerumahnya. Di rumah dia jatuh sakit selama delapan hari. Mendengar Tsa’labah sakit, Salman pun datang menghadap Rasulullah saw. lalu berkata, “Wahai Rasulullah! Masihkah engkau mengingat Tsa’labah? Dia sekarang sedang sakit keras.”
Maka Rasulullah saw. datang menemuinya dan meletakkan kepala Tsa’labah di atas pangkuan beliau. Akan tetapi Tsa’labah menyingkirkan kepalanya dari pangkuan beliau.”Mengapa engkau singkirkan kepalamu dari pangkuanku?” tanya Rasulullah saw.“Karana penuh dengan dosa.” Jawabnya
Beliau bertanya lagi, “Bagaimana yang engkau rasakan?”“Seperti dikerubuti semut pada tulang, daging, dan kulitku.” Jawab Tsa’labah.Beliau bertanya, “Apa yang kau inginkan?”“Ampunan Tuhanku.” Jawabnya.
Maka turunlah Jibril as. dan berkata,
“Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu mengucapkan salam untukmu dan berfirman kepadamu, `Kalau saja hamba-Ku ini menemui Aku dengan membawa sepenuh bumi kesalahan, niscaya Aku akan temui dia dengan ampunan sepenuh itu pula.’
Maka segera Rasulullah saw. memberitahu akan hal itu kepadanya. Mendengar berita itu, terpekiklah Tsa’labah dan langsung ia meninggal.Lalu Rasulullah saw. memerintahkan agar Tsa’labah segera dimandikan dan dikafani. Ketika telah selesai menyolatkan, Rasulullah saw. berjalan sambil berjingkat-jingkat. Setelah selesai pemakamannya, para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah! Kami lihat engkau berjalan sambil berjingkat-jingkat.” Beliau bersabda, “Demi Zat yang telah mengutus aku sebagai seorang nabi yang sebenarnya! Kerana, banyaknya malaikat yang turut melayati Tsa’labah.”
Dia menuju ke sebuah gunung yg berada diantara Mekkah dan Madinah dan terus mendakinya.Selama empat puluh hari Rasulullah saw. kehilangan dia. Lalu Jibril alaihissalam turun kepada Nabi saw. dan berkata, “Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu menyampaikan salam buatmu dan berfirman kepadamu, `Sesungguhnya seorang laki-laki dari umatmu berada di gunung ini sedang memohon perlindungan kepada-Ku.’”
Maka Nabi saw. berkata, “Wahai Umar dan Salman! Pergilah cari Tsa’laba bin Aburrahman, lalu bawa kemari.”
Keduanya pun lalu pergi menyusuri perbukitan Madinah. Dalam pencariannya itu mereka bertemu dengan salah seorang penggembala Madinah yang bernama Dzufafah.
Umar bertanya kepadanya, “Apakah engkau tahu seorang pemuda di antara perbukitan ini?”Penggembala itu menjawab, “Jangan-jangan yang engkau maksud seorang laki-laki yang lari dari neraka Jahanam?”“Bagaimana engkau tahu bahwa dia lari dari neraka Jahanam?” tanya Umar.
Dzaufafah menjawab, “Karana, apabila malam telah tiba, dia keluar kepada kami dari perbukitan ini dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, “Mengapa tidak cabut saja nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti keputusanMu!”“Ya, dialah yg kami maksud,” tegas Umar. Akhirnya mereka bertiga pergi bersama-sama.Ketika malam menjelang, keluarlah dia dari antara perbukitan itu dengan meletakkan tangannya di atas kepalanya sambil berkata, “Wahai Tuhan, seandainya saja Engkau cabut nyawaku dan Engkau binasakan tubuhku, dan tidak membiarkan aku menanti-nanti keputusan!”
Lalu Umar menghampirinya dan mendekapnya. Tsa’labah berkata, “Wahai Umar! Apakah Rasulullah telah mengetahui dosaku?”“Aku tidak tahu, yang jelas kemarin beliau menyebut-nyebut namamu lalu mengutus aku dan Salman untuk mencarimu.”Tsa’labah berkata, “Wahai Umar! Jangan kau bawa aku menghadap beliau kecuali dia dalam keadaan solat”Ketika mereka menemukan Rasulullah saw. tengah melakukan solat, Umar dan Salman segera mengisi shaf. Tatkala Tsa’laba mendengar bacaan Nabi saw, dia tersungkur pengsan.
Setelah Nabi mengucapkan salam, beliau bersabda, “Wahai Umar! Salman! Apakah yang telah kau lakukan pada Tsa’labah?”Keduanya menjawab, “Ini dia, wahai Rasulullah saw!” Maka Rasulullah berdiri dan menggerak-gerakkan Tsa’labah yg membuatnya tersedar.Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Mengapa engkau menghilang dariku?”Tsa’labah menjawab, “Dosaku, ya Rasulullah!”Beliau mengatakan, “Bukankah telah kuajarkan kepadamu suatu ayat yg apat menghapus dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan?”
“Benar, wahai Rasulullah.”
Rasulullah saw. bersabda,
“Katakan… Ya Tuhan kami, berilah kami sebahagiaan di dunia dan di akhirat serta peliharalah kami dari azab neraka.” (QS al-Baqarah:201)
Tsa’labah berkata, “Dosaku, wahai Rasulullah, sangat besar.”Beliau bersabda,”Akan tetapi kalamullah lebih besar.”Kemudian Rasulullah menyusul agar pulang kerumahnya. Di rumah dia jatuh sakit selama delapan hari. Mendengar Tsa’labah sakit, Salman pun datang menghadap Rasulullah saw. lalu berkata, “Wahai Rasulullah! Masihkah engkau mengingat Tsa’labah? Dia sekarang sedang sakit keras.”
Maka Rasulullah saw. datang menemuinya dan meletakkan kepala Tsa’labah di atas pangkuan beliau. Akan tetapi Tsa’labah menyingkirkan kepalanya dari pangkuan beliau.”Mengapa engkau singkirkan kepalamu dari pangkuanku?” tanya Rasulullah saw.“Karana penuh dengan dosa.” Jawabnya
Beliau bertanya lagi, “Bagaimana yang engkau rasakan?”“Seperti dikerubuti semut pada tulang, daging, dan kulitku.” Jawab Tsa’labah.Beliau bertanya, “Apa yang kau inginkan?”“Ampunan Tuhanku.” Jawabnya.
Maka turunlah Jibril as. dan berkata,
“Wahai Muhammad! Sesungguhnya Tuhanmu mengucapkan salam untukmu dan berfirman kepadamu, `Kalau saja hamba-Ku ini menemui Aku dengan membawa sepenuh bumi kesalahan, niscaya Aku akan temui dia dengan ampunan sepenuh itu pula.’
Maka segera Rasulullah saw. memberitahu akan hal itu kepadanya. Mendengar berita itu, terpekiklah Tsa’labah dan langsung ia meninggal.Lalu Rasulullah saw. memerintahkan agar Tsa’labah segera dimandikan dan dikafani. Ketika telah selesai menyolatkan, Rasulullah saw. berjalan sambil berjingkat-jingkat. Setelah selesai pemakamannya, para sahabat berkata, “Wahai Rasulullah! Kami lihat engkau berjalan sambil berjingkat-jingkat.” Beliau bersabda, “Demi Zat yang telah mengutus aku sebagai seorang nabi yang sebenarnya! Kerana, banyaknya malaikat yang turut melayati Tsa’labah.”
Langgan:
Ulasan (Atom)

